PRESS RELEASE: SEMINAR NASIONAL DAN TRAVOWIL 2025
Ciamis,
20 Januari 2025 – Senat Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Galuh sukses
menyelenggarakan seminar nasional bertajuk "Strengthening the Role of
Agricultural Youth for a Sustainable Future." Kegiatan ini merupakan
bagian dari rangkaian TRAVOWIL (Training Advokasi dan Jurnalistik Wilayah) II
ISMPI, yang berlangsung di Universitas Galuh pada 20 hingga 23 Januari 2025.
Mengambil
tempat di Gedung Auditorium Universitas Galuh, acara ini dihadiri oleh
mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Galuh, masyarakat umum, serta delegasi
Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia (ISMPI) Wilayah II. Seminar ini
bertujuan menginspirasi generasi muda untuk berkontribusi aktif dalam
pembangunan sektor pertanian yang berkelanjutan.
Acara
diawali dengan sambutan dari berbagai pihak, di antaranya Asep Riza Pamungkas,
Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Galuh, Mohamad Algi
Albiagi, perwakilan dari Koordinator Wilayah II ISMPI, Dr. drh. Agus Yuniawan
Isyanto, M.P., Wakil Rektor I Universitas Galuh, serta Bapak Budi Waluya, S.E.,
M.M., Penjabat Bupati Kabupaten Ciamis, yang sekaligus membuka acara seminar.
Dalam
sambutannya, Bapak Budi Waluya menekankan bahwa sektor pertanian adalah tulang
punggung perekonomian Ciamis sebagai daerah agraris. “Sebagai wilayah agraris,
mayoritas masyarakat Ciamis menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.
Sektor ini terbukti mampu bertahan bahkan saat krisis ekonomi,” ungkapnya. Ia
juga mengapresiasi Universitas Galuh atas kontribusinya dalam mendukung
pengembangan pertanian dan ketahanan pangan di daerah.
Budi
menyebutkan bahwa tantangan regenerasi petani muda saat ini menjadi isu serius,
dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan jumlah pemuda
usia 16–30 tahun yang terjun ke sektor pertanian, termasuk di Kabupaten Ciamis.
Ia juga menyoroti pentingnya inovasi, seperti mengenalkan dunia pertanian sejak
dini. “Sebagai contoh, di Kecamatan Rancah telah dilakukan upaya membangun
kesadaran pertanian sejak usia sekolah,” jelasnya.
Selanjutnya,
dalam pembukaan, Bapak H. Awan Setiawan, S.P., menekankan pentingnya
peran generasi muda dalam mendukung swasembada pangan melalui upaya
membangkitkan kembali kepercayaan petani di daerah. Ia menyampaikan bahwa
pemerintah memiliki komitmen besar untuk mendukung sektor pertanian, termasuk
dengan memberikan sumbangan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada Fakultas
Pertanian. Dukungan ini harus juga diiringi dengan pelatihan yang bertujuan
untuk meningkatkan keahlian mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi pertanian
modern.
Lebih
lanjut, ia menyatakan bahwa pemerintah harus siap berkolaborasi dan mendukung
berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh Fakultas Pertanian atau kelompok
pemuda di Ciamis yang bertujuan memajukan sektor pertanian. “Generasi muda
adalah harapan utama dalam menjaga ketahanan pangan dan membawa inovasi untuk
keberlanjutan pertanian di masa depan,” ujar H. Awan Setiawan, S.P.
R.
Ega Anggara Al Kautsar, S.H., M.M., Sekretaris Dinas Kebudayaan, Kepemudaan,
dan Olahraga Kabupaten Ciamis, turut menyampaikan pandangannya. Ia menekankan
pentingnya regenerasi petani di tengah tantangan global seperti perubahan iklim
dan urbanisasi. “Pemuda adalah kunci untuk menghadirkan inovasi teknologi
dan menciptakan pertanian modern yang tidak hanya produktif, tetapi juga ramah
lingkungan,” ungkapnya.
Keynote
speech disampaikan
oleh Bapak Ir. Herry Dermawan, yang memaparkan hubungan kerja antara pemerintah
dan sektor pertanian. Beliau menekankan bahwa generasi muda tidak perlu malu
menjadi petani, karena profesi ini adalah fondasi ketahanan pangan nasional.
Selain itu, beliau menggarisbawahi pentingnya regenerasi petani dan mengajak
mahasiswa untuk aktif berorganisasi, baik di kampus maupun masyarakat, sebagai
langkah awal memperluas kontribusi dalam pembangunan sektor pertanian.
Pemateri
pertama, Bapak Asep Herdiana, Analis Ketahanan Pangan Madya dari Badan
Ketahanan Pangan Indonesia, membahas potensi dan tantangan pangan menuju
Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045. Ia menyoroti pentingnya
diversifikasi konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman (B2SA),
serta pemanfaatan potensi pangan lokal untuk menghadapi ancaman krisis pangan
akibat perubahan iklim.
Dalam
paparannya, Asep Herdiana menyoroti pentingnya diversifikasi konsumsi pangan
yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman (B2SA). Ia menjelaskan bahwa
pemanfaatan potensi pangan lokal dapat menjadi solusi atas ancaman krisis
pangan akibat perubahan iklim, konflik geopolitik, dan ketidakstabilan ekonomi.
Ia
juga menekankan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam pembangunan
sektor pangan melalui inovasi, agripreneurship, dan penerapan teknologi modern.
"Dengan memanfaatkan potensi lokal
dan memberdayakan generasi muda, Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan
pangan nasional tetapi juga menjadi lumbung pangan dunia," ujar Asep Herdiana.
Namun,
ia juga mengungkapkan beberapa tantangan yang dihadapi, seperti rendahnya minat
generasi muda menjadi petani, kurangnya edukasi tentang pertanian modern, dan
keterbatasan akses lahan. Untuk itu, kolaborasi antara pemerintah, swasta,
akademisi, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan transformasi sistem pangan
nasional.
Seminar
ini menginspirasi pemuda untuk mengambil peran aktif dalam pembangunan pangan
nasional, sekaligus mendukung keberlanjutan ekonomi dan ekologi Indonesia.
Sebagai
bagian dari upaya memperkuat sektor pertanian berkelanjutan, Dr. Dadi, Rektor
Universitas Galuh, menyampaikan materi bertema "Agroforestri dan
Pertanian Berkelanjutan." Dalam paparannya, Dr. Dadi menekankan bahwa
agroforestri, yaitu integrasi pohon dengan tanaman budidaya pada satu lahan,
merupakan solusi efektif untuk mendukung keberlanjutan lingkungan dan
meningkatkan kesejahteraan petani.
Dr.
Dadi memaparkan tiga manfaat utama dari sistem agroforestri:
- Keanekaragaman
Hayati: Memberikan habitat bagi flora dan fauna.
- Pelestarian
Tanah: Mencegah erosi sekaligus meningkatkan kesuburan.
- Kesejahteraan
Petani: Meningkatkan produktivitas dan pendapatan.
Sebagai
salah satu contoh keberhasilan, ia menyebut perkebunan kopi di Jawa dan hutan
rakyat di Kalimantan yang telah mengadopsi sistem ini dengan hasil signifikan.
"Agroforestri
bukan hanya tentang pertanian, tetapi juga pelestarian lingkungan dan masa
depan generasi,"
tegas Dr. Dadi.
Namun, ia juga menggarisbawahi beberapa tantangan, seperti keterbatasan lahan, minimnya pengetahuan petani, dan akses pasar yang belum optimal. Untuk mengatasi kendala ini, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam memberikan edukasi dan dukungan kebijakan.
Seminar
ini diharapkan dapat menjadi forum strategis untuk memperkuat sinergi antara
mahasiswa, akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam menghadapi tantangan
pertanian melalui inovasi berkelanjutan.